PENTINGNYA KOMUNIKASI DALAM MERINTIS KELUARGA SAKINAH
Berkali orang meminta penasehatan terhadap kasus pernikahannya. Berbagai macam alasan dan sumber konflik terjadi didalamnya. Namun kalau boleh disimpulkan inti dari segala permasalahan keluarga yang paling dominan adalah komunikasi. Karena itu pula salah seorang ulama dalam hikmah nikah yang disampaikan dalam sebuah resepsi pernikahan menyatakan bahwa ikatan pernikahan sangat tergantung pada sejauh mana pasangan mampu mensiasati seni berkomunikasi.
Terkadang suasana keluarga sangat hambar karena ayah terlalu dominan atau ibu terlalu superior sehingga tidak terjadi komunikasi sama sekali. Masing-masing berdiam diri dan memendam perasaan. Begitu emosi tidak lagi bisa ditahan, hal-hal yang sangat remehpun jadi masalah besar. Sukarto (bukan nama sebenarnya) seorang pejabat pemerintah lulusan fakultas teknik. Ahli mekanik sepeda motor. Suatu hari bersama isterinya datang ke BP4 untuk meminta penasehatan. Sang isteri ngotot meminta rekomendasi perceraian dengan alasan tidak ada kecocokan lagi. Ketika ditanya indikasi ketidak cocokannya, waduh! Mengejutkan! Alasannya sangat remeh sekali.
Isteri ingin dibelikan sepeda motor mio sementara suami merasa dilecehkan keilmuannya gara-gara saran untuk membeli motor spin karena lebih tangguh ditolak. Bagaimana bisa pernikahan dikorbankan hanya karena sepeda motor mio dan spin?Apabila anggota keluarga diberi waktu dan kesempatan untuk sama-sama duduk mendiskusikan berbagai persoalan intern dan ekstern keluarga, maka itulah pertanda bahwa masing-masing elemen keluarga tersebut memiliki perhatian terhadap keutuhan keluarga, peran dan saling kerjasamanya sebagai sebuah upaya nyata dalam mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah.
Memang, laki-laki yang diberi amanah kepemimpinan dalam rumah tangga dan orang yang paling bertanggung jawab, penentu segala keputusan. Tetapi dengan memberikan kesempatan kepada isteri sebagai partner suami dalam memimpin keluarga dan terutama kepada anak-anak yang menginjak dewasa - maka hal itu akan merupakan pendidikan tanggung jawab kepada mereka, di samping semua akan merasa lepas dan lapang dengan perasaannya, karena pendapat mereka didengar dan dihargai meski kemudian akhirnya pendapatnya tidak diterima .Misalnya, dengan mendiskusikan soal umrah pada bulan Ramadhon atau pada liburan-liburan lainnya, bertandang ke sanak keluarga menyambung silaturrahim, berdarmawisata, penyelenggaraan walimah pernikahan, aqiqah, pindah rumah, proyek-proyek sosial seperti penghitungan jumlah fakir miskin sekampung untuk pemberian bantuan atau pengiriman makanan kepada mereka, demikian juga diskusi tentang kemelut keluarga, kerabat dan memberikan andil pemecahannya.
Perlu juga diingatkan kepada bentuk lain dari pertemuan yang penting untuk diselenggarakan, yakni âPertemuan Keterbukaanâ antara kedua orangtua dan anak-anak. Beberapa kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang telah baligh terkadang tidak mungkin untuk dipecahkan kecuali melalui pertemuan pribadi. Misalnya, bapak dengan anak laki-lakinya memperbincangkan secara terbuka berbagai persoalan yang menyangkut problematika anak remaja dan puber, hukum-hukum baligh. Demikian pula halnya ibu dengan puterinya membincangkan persoalan-persoalan tersebut sekaligus mengajarinya hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita baligh.Bapak dan ibu hendaknya berusaha semampu mungkin membantu memecahkan problem anak-anaknya terutama pada masa mereka masih remaja.
Hal itu misalnya bisa dilakukan dengan menggunakan bahasa-bahasa yang menarik, seperti âketika saya masih seumur kamu â¦â, sehingga mudah diterima.Tidak adanya pertemuan semacam ini terkadang menjadikan sebagian anak-anak menjalin persahabatan dengan teman-teman yang tidak baik, yang pada akhirnya menimbulkan petaka besar. Wallahu Aâlam.






